ROI
Perempuan yang dijadikan angka dan investasi oleh orang lain.
Saya senang nulis cerita pendek dari jaman multiply dan blogspot. Hari ini saya post cerita pendek disini, semoga kalian suka.
Neneng pertama kali tahu dirinya cantik dari mulut orang asing.
Bukan dari ibunya yang selalu bilang kamu mah biasa aja, Neng, jangan GR. Bukan dari teman-teman SMA yang kompetisinya terlalu ketat dan pujiannya terlalu jarang. Dari Marc, laki-laki Jerman dengan rahang kotak dan mata biru abu-abu yang datang ke kafe tempat Neneng kerja di Canggu, duduk di meja empat, dan bilang
your smile is very warm. You are beautiful, you know that?
Neneng tidak tahu warm artinya apa waktu itu. Malam itu dia buka kamus di HP. Hangat. Senyummu sangat hangat. Dia simpan kata itu lama. Lebih lama dari yang semestinya.
Ini Canggu, 2023. Jalanannya sempit tapi isinya lebar. Banyak villa-villa putih dengan kolam renang yang airnya lebih biru dari langit aslinya, kafe-kafe dengan nama bahasa Inggris dan wifi kencang juga menu yang harganya dalam dolar kalau yang pesan bule, rupiah kalau yang pesan lokal, tapi produknya sama persis. Neneng kerja di salah satu kafe itu sudah dua tahun. Gajinya dua juta. Ditambah tips, bulan bagus bisa tiga jutaan. Kalau lagi beruntung.
Dua juta di Canggu adalah angka yang terasa seperti bercanda.
Sewa kos satu jutaan kalau mau yang punya jendela dan tidak bocor. Makan sehari-hari tiga puluh sampai lima puluh ribu kalau tidak mau sakit perut. Kirim ke Ibu di Ciamis lima ratus ribu tiap bulan
“Neng, segitu mah kurang buat beli beras sebulan.”
Tapi itu yang Neneng sanggup, jadi itu yang dikirim. Neneng tinggal bertiga di kos yang kipas anginnya bunyi seperti orang batuk sebelum meregang nyawa. Teman sekamarnya, Wulan dan Sari, juga kerja jadi pelayan. Mereka semua dari luar Bali. Mereka semua mengirim uang ke rumah dengan jumlah yang berbeda tapi rasa yang sama,
tidak pernah cukup.
Marc datang lagi tiga hari kemudian. Lalu seminggu kemudian. Lalu jadi langganan. Dia selalu pesan long black, tidak ada gula, tidak ada susu. Duduk lama. Baca buku atsau sibuk berkutat dengan laptopnya. Tidak ganggu siapapun. Tip-nya untuk Neneng bisa dibilang gila — dua ratus ribu untuk kopi empat puluh ribu, setiap kali, tidak pernah kurang, kadang lebih.
Wulan yang pertama sadar.
“Itu bule pilih mejamu terus, Neng.”
“Meja empat emang deket colokan.”
“Dia bawa powerbank sendiri.”
Neneng tidak jawab. Tapi dia mulai lebih sering lewat meja empat waktu giliran refill air.
Lalu suatu siang Marc minta nomor HP-nya. Cara dia minta tidak seperti yang sering Neneng lihat dari tamu laki-laki lain, yang biasanya senyum terlalu lebar dan tatapannya turun sebentar sebelum naik lagi. Marc bilang sambil matanya tetap di matanya: I’d like to take you for dinner sometime. Proper dinner, not rushed. If you want.
If you want. Dua kata itu yang membedakan.
Neneng memberikan nomornya.
Kencan Neneng dan Marc pertama di tempat yang mejanya pakai taplak sutra dan lilinnya sungguhan, bukan lilin elektrik dengan flicker palsu. Ada bunga di tengah meja, pemandangan meja menghadap langsung ke laut. Marc pesan untuk Neneng tanpa bertanya dulu, tapi tebakannya benar. Dia tahu Neneng tidak suka pedas dari percakapan kecil di kafe, tahu Neneng suka gurih dan manis yang stabil.
Marc mengajarinya minum wine
Neneng, ini tannic, rasakan di belakang lidah, ini finish-nya panjang
Dan Neneng mengangguk, berpura-pura mengerti padahal mulutnya merasakan cuka asam mahal. Tapi dia suka cara Marc menjelaskan. Pelan-pelan. Tidak menggurui. Seperti berbagi, bukan mengajari.
Di kencan ketiga dia menyentuh tangan Neneng di atas meja.
Neneng tidak menariknya. Ada gemuruh pelan di dadanya ketika Marc menyentuh tangannya. Gemuruh yang kemudian hari ia yakini sebagai cinta.
Sebulan pacaran, Marc bilang dia mau transfer uang tiap bulan.
“Bukan karena kamu butuh,” katanya. “Karena aku mau. Biar kamu tidak harus hitung-hitung.”
Sepuluh juta. Langsung ke rekening. Tanggal satu. Tidak pernah telat.
Sepuluh juta. Berkali-kali lipat gaji Neneng.
Neneng transfer balik hari itu juga. Marc transfer lagi sambil tulis:
it’s not transaction, it’s care, please accept it.
Neneng tidak transfer balik yang kedua kali.
Grup WhatsApp Cewek Kostan Semangat meledak.
NENG. SEPULUH JUTA SEBULAN DARI PACARNYA???
Belum termasuk sering dibayarin makan kan sama kamu sering dibeliin baju dan hadiah-hadiah kecil!
Ya Allah Neng kamu tuh beneran lucky banget ya. Gue mau nangis.
Cowok Indo mana ada yang kayak gitu coba?
Itu belum ngomongin kalau jadi istrinya. Dibawa ke Jerman, hidup enak.
AAMIIN YA ALLAH.
Neneng membaca pesan-pesan itu sambil tiduran di kasur kos barunya, kos yang Marc bantu carikan, lebih besar, ada AC bukan kipas angin yang batuk-batuk, di gang yang lebih tenang. Semua Marc yang bayar. Dia membaca pesan-pesan di grup whatsappnya dan ada rasa senang yang naik ke dada. Warm. Seperti kata yang pernah diajarkan Marc.
Ibunya telpon.
“Neng, beneran pacarmu itu orang Jerman?”
“Iya, Bu.”
“Kerja apa dia?”
“Freelance, Bu. Desainer. Tapi juga punya bisnis sendiri.”
“Hebat! Pengusaha ya. Udah lama di Bali?”
“Setahun lebih.”
Hening sebentar. Nafas ibunya yang terdengar berpikir.
“Neneng, Alhamdulillah ya tapi tetap jaga diri ya. Jangan sampai cuma dimain-mainin.”
“Iya, Bu.”
Kalimat itu tidak tinggal lama di kepala Neneng. Tenggelam dalam tiga hari karena yang datang penggantinya lebih keras: ibunya telpon lagi dua minggu kemudian, kali ini suaranya berbeda.
“Neng, tadi Ibu cerita ke Bu RT soal pacarmu. Terus Bu RT cerita ke Pak Lurah waktu arisan. Sekarang pada nanya-nanya. Wah, kata mereka, anaknya Bu Yati dapat jodoh bule ya. Keren banget.”
Neneng tersenyum bangga membacanya.
“Kata Bu RT, kalau kamu nikah sama bule, nanti Ibu bisa ikut jalan-jalan ke Eropa ya, Neng. Hehehe.”
Ibunya tertawa. Tawa yang ringan, yang enteng, yang tidak tahu beratnya.
“Amin amin, nanti kita jalan-jalan Bu ke Eropa, pokoknya doain aja ya bu.”
Foto mereka pertama kali Neneng posting di Instagram setelah tiga bulan pacaran. Sunset di sebuah cafe, tampak dari belakang, tangan bergandengan. Foto itu Neneng sengaja minta tolong untuk difotokan oleh pelayan cafe tempat mereka menghabiskan malam dengan sebotol whisky.
Lucky to have him, he loves me and provides me.
Neneng tulis caption dengan bantuan Google Translate, huruf per huruf, mungkin sambil mengecek berkali-kali apakah sudah benar, apakah terdengar bagus, apakah orang-orang akan mengerti.
Mereka mengerti.
Komen masuk dalam hitungan menit, dari kawan-kawannya, keluarga dan netizen.
Kamu sama bule?? GOALS BANGET.
Serius cantiknya teh Neneng ini, pantas dapat bule.
Cara dapet pacar bule dong Kak hehehe.
Lucky girl!!!
Kak share tipsnya dong, bule itu enak banget ya kayaknya, perhatian.
Follower naik dua ratus dalam sehari.
Neneng screenshot semuanya dan kirim ke grup kos.
Gue terkenal, anjir lah. tulisnya sambil tambah emoji tertawa.
Tapi waktu dia taruh HP dan berbaring menatap langit-langit, tersenyum. Ada sesuatu yang dia rasakan yang lebih aneh dari sekedar senang. Lebih besar. Seperti baru pertama kali dilihat, bukan oleh Marc, tapi oleh semua orang yang tidak pernah benar-benar melihatnya sebelumnya.
Neneng, si pelayan kafe gaji dua juta dari Ciamis.
Sekarang dilihat.
Dia mulai buat konten.
Awalnya iseng, satu video pendek dari teras kos, suaranya pelan karena malu sendiri
“Tips dapet pacar bule: jujur sama diri sendiri, percaya diri, dan jangan pura-pura jadi orang lain.”
Dua ribu views dalam dua hari. Lalu empat ribu. Lalu dua belas ribu setelah di-share akun agregator travel dan lifestyle. DM membanjir. Perempuan-perempuan muda dari seluruh Indonesia berkerumun di kolom reply minta tips, ada yang cerita pengalaman, dan yang kirim foto sambil tanya kira-kira bule bakal suka sama yang kayak gini ga, Kak?
Neneng yang tadinya malu jadi terbiasa. Lalu terbiasa jadi nyaman. Lalu nyaman jadi punya suara yang tidak pernah dimilikinya sebelumnya.
Dia bikin seri konten.
Cara Kenalan Sama Bule di Kafe Tanpa Canggung.
Kesalahan Perempuan Indonesia Waktu PDKT Sama Bule.
Kenapa Aku Pilih Pacar Bule Dibanding Pria Lokal.
Yang terakhir itu yang meledak.
Empat puluh ribu views dalam dua hari. Komennya ribuan.
“Aku bukan bilang cowok Indonesia jelek. Tapi kita jujur aja ya girls, banyak cowok Indonesia yang masih ekspektasi cewek jadi full time housewife, urus anak, masak tiap hari, tapi penghasilannya sendiri pas-pasan. Terus kalau perempuannya lebih sukses, malah insecure. Kalau Marc? Dia support aku. Dia tidak pernah sekalipun nanya ‘kamu udah masak belum’ atau nyuruh pakai baju tertutup. Dia kirim uang bukan karena aku minta, karena dia mau. Itu namanya provider sejati. Dan itu yang kita butuhkan girls dalam butuh dalam hidup. Lelaki yang bertanggung jawab dan mental provider.”
Komennya ribuan. Setengah setuju penuh semangat. Seperempat marah. Seperempatnya lagi cuma memanas-manasi yang lain. Ah netizen mah ngirian wae, Pikir Neneng.
Neneng screenshot yang setuju. Yang marah dia block atau abaikan.
Followers-nya sekarang dua belas ribu. Lalu dua puluh ribu. Lalu bulan berikutnya, tiga puluh delapan ribu.
Brand kecil-kecilan mulai masuk DM minta endorse. Kafe, skincare, aplikasi belajar bahasa Inggris. Neneng mulai dapat uang dari sana juga. Hidupnya, dari sudut pandang layar HP siapapun yang melihat, terlihat sempurna.
Keluarga di Ciamis sudah tahu semua.
Karena ibunya dan kakak-kakaknya cerita ke siapapun yang mau dengar, dan di kampung, semua orang mau dengar. Kecuali Bapaknya. Bapaknya Neneng tidak komentar apa-apa, hanya diam.
Ibu nelpon dua minggu sekali sekarang, lebih sering dari sebelumnya. Tiap nelpon selalu ada update: tadi Uwak Nani nanya kapan Neneng nikah sama si bule, atau kata Ceu Emi, kalau udah jadi istri bule bisa langsung minta dibeliin rumah di sini, atau yang paling sering: Neng, kalau Marc ajak ke Jerman, Ibu mau ikut ya jalan-jalan. Impian Ibu dari dulu mau ke Eropa, mau liat bagusnya disana, pengen deh ibu diajak ya Neng.
Neneng selalu bilang iya, Bu sambil senyum ke HP.
Tapi setelah telpon ditutup ada sesuatu yang mengganjal di dada. Repot. Semua orang sekarang punya investasi emosional di dalam hubungannya. Semua orang sekarang menghitung sesuatu: perjalanan ke Eropa, rumah yang mungkin dibeliin, status sosial yang naik karena anak atau keponakannya punya pacar bule.
Neneng jadi bukan cuma Neneng lagi.
Dia jadi tiket. Milik banyak orang.
Neneng menghela nafas.
Enam bulan pacaran, Marc bilang cinta untuk pertama kali. Di pantai, malam, kembang api tahun baru meledak di atas laut hitam, dan Marc bilang I love you sambil genggam tangan Neneng erat.
Neneng mengulanginya. I love you too. Wajahnya dia sembunyikan di leher Marc yang bau sunscreen dan bir dingin.
Malam itu dia nelpon ibunya.
“Bu, Marc bilang sayang sama Neneng.”
Ibunya menangis. Tangis yang keluar waktu harapan terasa mulai punya bentuk nyata.
“Kamu harus jaga dia baik-baik ya, Neng. Jangan sampai dia lari. Laki-laki baik kayak gitu susah dicari.”
Neneng tidak bilang apa-apa.
Hanya iya, Bu.
Tapi waktu dia taruh HP dan berbaring di samping Marc yang sudah hampir tidur, ada kalimat ibunya yang bergulir di kepalanya: jangan sampai dia lari.
Bukan semoga kalian bahagia. Bukan semoga dia baik-baik sama kamu.
Jangan sampai dia lari.
Seperti Neneng harus menjaga agar sesuatu yang berharga tidak kabur. Seperti Marc adalah aset yang bisa hilang kalau tidak dijaga benar. Neneng menatap langit-langit kamar dalam gelap. Sesuatu bergeser di dalam dadanya. Sangat kecil. Satu sentimeter saja. Tapi kalau kamu berbaring di sana, kamu bisa merasakannya.
Setahun.
Neneng sudah tidak kerja jadi pelayan kafe lagi. Konten-kontennya yang bayar sebagian besar tagihan sekarang, walaupun pendapatannya dari konten tidak sebesar bulanan yang masih diberikan Marc. Uang bulanan yang dia kirim ke ibunya di Ciamis pun naik dari lima ratus ribu menjadi dua juta sebulan.
Satu kali Sari datang main. Menceritakan tentang tugas akhirnya. Sari memang kuliah sambil kerja, kakaknya yang bantu bayaran kuliah, kakaknya bekerja sebagai admin gudang di Jakarta, sedangkan untuk kebutuhan kost dan sehari-hari dari gaji Sari sebagai pelayan.
Mereka duduk di teras kos Neneng yang baru dan mewah, minum teh, dan Sari melihat sekeliling. Meja kayu yang bagus, lampu rotan, ac yang dingin, kasur yang tebal kelihatannya dari luar jendela.
“Enak banget hidup kamu, Neng.”
Neneng bisa merasakan nada yang lebih berat dari Sari, yang ada campuran sesuatu yang tidak bisa disebut dengan kata enak atau tidak enak.
“Makanya cari bule. Bahasa inggris kamu kan bagus” Jawab Neneng sambil terkekeh dan mengisi ulang gelas tehnya.
“Iya nanti, aku mau selesaikan kuliah dulu.”
“Alah buat apa tinggi-tinggi kuliah, nanti juga nikah terus jaga anak dirumah. Sayang uangnya.”
“Ya gapapa, masa mau seterusnya aku jadi pelayan kafe?”
“Udah sama bule aja, lihat aku hidup di kostan seperti ini sekarang, tiap bulan dikirimi duit, dikasih handphone terbaru, dibelikan baju, dibayarin makan di restaurant bagus. Nanti kalau sudah nikah, diajak ke Eropa tinggal disana. Ga perlu kerja lagi, tinggal nikmatin hidup!”
Sari terdiam menatap Neneng.kemudian mengalihkan pandangannya ke arah langit.
Di Instagram, followers-nya empat puluh ribu lebih sekarang.
Perempuan-perempuan muda yang follow dia sudah beberapa yang kabar DM balik: mereka juga dapat pacar bule sekarang. Kirim foto posisi yang sama dengan foto-foto Neneng, tangan bergandengan, restoran mahal, senyum yang dilatih terlihat santai tapi bahagia.
Satu anak SMA kirim pesan panjang: Kak Neneng, gara-gara konten Kakak aku sekarang berani kenalan sama bule di mall. Makasih ya Kak, Kakak inspirasi banget.
Neneng baca pesannya dua kali. Ketik balasan. Hapus. Ketik lagi. Hapus lagi. Akhirnya kirim: Seneng deh dengernya. Semoga dapat bule yang baik kaya pacarku ya!
Terlambat dua minggu.
Neneng duduk di tepi bathtub di kamar mandi kos yang Marc bayar dan memegang test pack. Hasilnya tidak ambigu. Dua garis. Jelas. Bersih. Tidak ada ruang interpretasi. Dia duduk di sana cukup lama sampai air yang dia nyalakan untuk mandi jadi dingin.
Dia cerita ke Marc malam itu.
Marc tidak kaget. Marc tidak marah. Marc duduk di kursi kayu dekat jendela, pegang cangkir kopinya, masih ada asapnya, dan berkata dengan nada yang sangat tenang, sangat datar, sangat seperti orang yang sudah berpikir soal skenario ini jauh sebelum ini:
“Okay”
Lalu dia minum kopinya. Neneng menatap mukanya. Muka yang sama yang dia lihat tiap hari. Muka yang sudah dia hafal sampai ke cara dia mengerutkan dahi waktu baca, cara dia terkekeh waktu ada yang lucu tapi tidak mau terlihat tertawa terlalu keras. Muka yang sama.
Ekspresi yang berbeda.
Okay.
Hanya Okay, tidak lebih. Neneng tidak paham maksud dari Okay yang keluar dari mulut Marc kali ini. Dan dia berdiri, masuk ke kamar, dan tidur dengan punggung menghadap sisi Marc.
Dua hari kemudian Marc bilang dia harus pulang ke Munich.
“Kenapa?”
“Ada kerjaan mendesak. Aku balik dulu. Paling dua bulan, habis itu balik lagi.”
Neneng masukkan tanggalnya di kalender HP. Seperti orang yang belum membaca tanda-tanda. Seperti orang yang terlalu ingin percaya sampai mematikan bagian otaknya yang bisa menghitung. Dua hari sebelum Marc pergi, HP-nya tertinggal di meja waktu dia mandi.
Neneng tidak berniat buka. Dia cuma mau matikan layar yang masih nyala karena notifikasi masuk. Tapi layarnya menyala dari notifikasi grup. Namanya dalam bahasa Inggris. Sederhana. Cukup untuk dibaca sebelum Neneng sempat memalingkan muka.
Dia buka.
Ada foto-foto.
Bukan foto porno. Lebih subtil. Lebih dingin. Foto-foto perempuan di kafe, di pantai, di gang-gang pasar, diambil dari kejauhan atau agak terang-terangan. Di bawahnya ada komentar, bahasa Inggris, Belanda, satu dua Jerman.
This one from Seminyak. 8/10.
Met her at X Kafe. Easy.
Bali girls, man. They always think you’re gonna marry them lol.
Lombok ones are more desperate. Better value.
Yogya is underrated. Cheaper too.
Neneng scroll ke atas. Ke atas. Ke atas lagi.
Ada namanya di sana.
Marc yang kirim. Tiga bulan lalu. Foto mereka berdua. Foto yang dia pikir cuma milik mereka berdua yang Neneng tidak pernah posting di Instagram. Di bawahnya Marc nulis sesuatu dalam bahasa Jerman. Ada yang balas dalam bahasa Inggris:
She’s cute. How much you spending?
10 million rupiah.
Angkanya persis.
Persis jumlah yang Marc transfer tiap bulan. Yang Neneng terima sambil bilang makasih sayang, sambil berpikir ini bentuk cinta, ini bukti dia serius, ini artinya dia mau jaga aku.
Lalu ada yang balas lagi:
Wow that's cheap for a month. And you get the service every day.
Bro, nice ROI.
Return on investment.
Neneng menaruh HP itu kembali di atas meja. Dengan hati-hati. Pelan-pelan. Marc keluar dari kamar mandi tersenyum sambil menggosok kepalanya dengan handuk. Neneng tidak tersenyum balik kali ini. Dia masuk kamar mandi. Duduk di tepi bathtub yang sama.
Tidak ada air mata yang keluar. Tubuhnya terlalu bingung untuk menangis. Semua hal yang dia percaya dan dia bangun dan dia ceritakan ke ribuan perempuan di internet sedang runtuh, diam, berat, tanpa suara. Rasa perih menjalar di dadanya.
Nice ROI.
Neneng menutup mukanya dengan kedua tangan. Dia tidak tahu berapa lama dia duduk di sana. Sampai air di lantai bathtub yang tadi dia nyalakan sepenuhnya dingin. Sampai suara motor dari luar sudah berubah dari ramai sore ke sepi malam.
Marc pergi seminggu kemudian.
Di bandara, dia peluk Neneng lama. Cium keningnya dua kali. Bilang dia akan balik paling lama dua bulan. Bilang dia rindu Neneng bahkan sebelum pesawatnya berangkat.
Neneng melambaikan tangan sampai punggungnya hilang di balik pintu keberangkatan. Lalu dia berbalik. Berjalan ke parkiran. Buka helm. Naik motor.
Dua menit duduk di jok motor yang panas kena matahari siang tanpa nyalakan mesin, hanya duduk, tangan di atas setang, memandangi aspal.
Di klinik, Neneng duduk sendiri di ruang tunggu.
Lampunya putih terlalu terang. Majalahnya tahun lalu. Di sebelahnya dua perempuan lain yang juga menunggu sendiri. Mereka tidak saling pandang. Mereka semua melihat ke HP masing-masing atau ke lantai atau ke titik di dinding yang tidak ada apa-apanya. Neneng mengelus perutnya, memejamkan mata.
Ruangan itu penuh beratnya. Dia keluar tiga jam kemudian. Sendirian dan tertatih. Perutnya kosong seperti tatapannya.
Marc tidak balik dua bulan kemudian.
Tiga bulan kemudian juga tidak.
Pesannya makin jarang. Alasannya selalu masuk akal, ada proyek menumpuk, masalah keluarga, koneksi jelek. Neneng tidak kejar. Tidak kirim tiga puluh pesan berturut-turut. Tidak marah-marah.
Transferan bulan berikutnya tidak masuk.
Neneng pergi ke manajer kafe, tempat dulu dia bekerja, minta dipekerjakan lagi. Manajernya mengernyitkan dahi keheranan.
Ini bulan ke empat. WhatsApp Marc sudah tidak aktif lagi sejak bulan ketiga. Neneng membereskan barang-barangnya di kostan mewah, ini hari terakhirnya, dia tidak sanggup bayar kostan semewah ini. Dia akan kembali ke kostan lamanya dengan kipas angin yang menuju sakratul maut.
Ibunya telpon.
“Neng, Marc gimana kabarnya? Kata Tante Emi kemarin nanya-nanya, katanya kapan kalian nikahannya.”
Hening.
“Neng?”
“Belum tau, Bu.”
“Loh, bukannya dia bilang—”
“Belum tau, Bu.”
Ibunya diam. Napasnya terdengar seperti orang yang baru menghitung sesuatu dan angkanya tidak cocok.
“Kamu baik-baik aja, Neng?”
“Baik, Bu.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Neng, transferan bulan ini ada kan? Kan bulan kemarin telat, terus kurang. Ibu mau bayar utang ke Ceu Emi.”
“Neneng usahain ya bu. Marc juga lagi ribet usahanya disini. Tapi neneng usahain.”
“Iya Neng, minta tolong ya.”
Telepon ditutup.
Neneng menghela nafas panjang. Dia lelah untuk terus berbohong.
Neneng duduk di loker ruang ganti kafe, seragam hitam sudah dipakai, delapan menit lagi shift mulai. Lampu loker ruang ganti yang selalu agak redup. Bau deterjen dan sedikit minyak goreng yang selalu menempel di sini entah dari mana.
Dia menarik napas. Satu kali. Dua kali.
Berdiri. Periksa apron sudah terikat dengan benar. Masuk ke lantai kafe.
Jam 2 pagi, tidak bisa tidur dan Neneng memutuskan untuk buka Facebook. Dia memang jarang buka facebook karena menurutnya membosankan.
Dia masuk ke grup Expat Life Bali & Indonesia yang dulu dia join waktu masih semangat-semangatnya belajar bahasa Inggris dari komentar-komentar bule. Grup itu isinya campuran — tips restoran, keluhan soal visa, foto-foto liburan, sesekali ada drama.
Dia scroll.
Lalu berhenti.
Foto itu muncul di antara iklan kursus bahasa Inggris dan postingan soal tempat snorkeling di Nusa Penida.
Dua orang berdiri di depan Prambanan. Sore, cahaya keemasan yang bagus sekali, jenis cahaya yang membuat semua orang terlihat lebih bahagia dari yang sebenarnya, langit biru tua di belakang, bayangan panjang di tanah. Perempuan Indonesia, usia sekitar dua puluhan, rambut panjang diikat longgar, senyum lebar yang kelihatan asli karena matanya ikut senyum. Dan laki-laki di sebelahnya, tangannya di bahu perempuan itu, dari belakang, dengan cara yang sangat spesifik, cara yang familiar, cara yang Neneng kenali tanpa perlu melihat wajahnya.
Tapi dia tetap lihat wajahnya.
Dua kali. Tiga kali.
Marc.
Dheg.
Dia periksa tanggal posting. Sebelas hari lalu. Caption-nya: Yogyakarta. Third time here and in love with this place. Thanks to my beautiful guide — lalu nama perempuan itu di-tag.
Neneng klik profil perempuan itu.
Dari Semarang. Kerja di hotel. Foto-fotonya biasa. Makanan, pemandangan, selfie di cermin toilet dengan pencahayaan yang terlalu kuning. Foto-foto orang yang hidupnya sedang berjalan, orang yang tidak tahu bahwa ada perempuan lain di Bali yang sedang melihat fotonya jam dua pagi sambil menahan napas.
Neneng scroll ke bawah.
Satu foto Marc. Dua. Dia terus scroll. Tiga, empat.
Sepuluh foto.
Sepuluh.
Neneng berhenti di foto pertama. Periksa tanggalnya.
Lima bulan lalu.
Lima bulan lalu adalah waktu Marc bilang ke Neneng ada pekerjaan penting di Yogyakarta, klien lokal yang minta meeting langsung, tiga hari saja, nanti balik. Neneng ingat malam sebelum Marc berangkat, mereka makan di restaurant dekat kos, Marc pesan ayam bakar, Neneng pesan sop ikan, Marc bilang kangen kamu nanti dan Neneng ketawa bilang hanya tiga hari. Neneng ingat rasanya waktu itu: hangat, biasa, seperti sepasang orang yang hidupnya sudah saling masuk ke dalam dan tidak ada yang perlu dibuktikan lagi.
Dia scroll ke foto kedua. Ketiga. Keempat. Kelima.
Semuanya dalam rentang sebulan lalu, waktu Marc tiba-tiba berhenti balas pesan, berhenti kirim uang, waktu Neneng mulai memeriksa koneksi internetnya sendiri karena tidak percaya orang bisa diam sepuluh hari tanpa alasan.
Foto keenam: dua minggu lalu. Mereka di restoran. Marc pegang gelas bir, perempuan itu tersenyum ke kamera memegang gelas bir. Tangan mereka yang lain bergenggaman.
Foto ketujuh dan kedelapan: sebelas hari lalu, Prambanan itu.
Foto kesembilan dan kesepuluh: diunggah dua hari lalu.
Caption foto terakhir itu dua kata saja.
Mein Schatz.
Neneng tidak perlu Google Translate untuk tahu artinya. Tapi dia tetap buka Google Translate, karena ada bagian dari dirinya yang masih ingin diberi tahu bahwa dia salah baca, salah tangkap, salah mengerti.
My darling. My treasure.
Dadanya sakit. Wajahnya panas dan merah. Dia pikir satu hal. Betapa mudahnya.
Betapa mudah Marc sudah kembali ke Indonesia dan melupakannya. Betapa mudah dia pegang bahu perempuan lain dengan cara yang sama. Betapa mudah perempuan itu senyum di depan Prambanan dengan cahaya keemasan yang sama dengan cahaya yang pernah Neneng rasakan di tanah lot waktu Marc bilang I love you dan Neneng percaya.
Betapa ia gampang diganti. Betapa semua yang dia pikir istimewa, dari perhatiannya, cara dia menjelaskan wine, cara dia pegang tangan di atas meja, itu bukan sesuatu yang dia berikan hanya kepadanya. Itu cara kerja Marc. Itu yang Marc lakukan kepada siapapun yang kebetulan duduk di radius yang tepat.
Betapa mudah posisi itu diisi.
Perempuan di Semarang itu bukan perempuan jahat, bukan perebut, dia tidak tahu ada Neneng. Neneng yakin itu. Yakin dengan cara yang menyakitkan. Dalam skema yang Marc bangun, mereka tidak perlu bersilangan. Tidak perlu tahu satu sama lain. Masing-masing di kotanya, masing-masing dengan ilusinya, masing-masing percaya bahwa foto tangan bergandengan yang mereka miliki adalah sesuatu yang eksklusif.
Neneng buka Instagram.
Scroll ke konten-kontennya. Foto-foto tangan mereka berdua yang paling banyak di-save dan di-share. Jari-jari Neneng dan jari-jari Marc di atas meja kafe. Di atas buku menu. Di atas pasir pantai.
Tangan. Selalu tangan.
Karena Marc tidak mau wajahnya muncul. Dari awal dia bilang dia tidak nyaman difoto untuk sosial media. Neneng pikir itu karena dia introvert, karena orang Eropa memang begitu, karena dia menghormati privasi. Neneng tidak pernah berpikir bahwa mungkin itu karena ada perempuan lain yang juga bisa scroll dan mengenali.
Sistem yang rapi. Sistem yang sudah dipikirkan.
Dia lihat foto tangan mereka yang paling viral — tangan Neneng dan tangan Marc di atas hammock, cahaya sore yang jatuh dengan indah, sudah di-save empat ribu kali lebih. Dengan caption yang dulu Neneng tulis dengan bangga, Dicintai secara utuh, dimanjakkan secara penuh. Inilah provider sejati.
Di bawahnya komentar-komentar yang sudah dia hafal:
Goals banget.
Cara dapet pacar bule dong Kak.
Lucky girl!!!
Dan dirinya sudah membungkus cara kerja itu menjadi konten. Sudah menyebutnya provider sejati. Sudah mengajarkannya ke puluhan ribu perempuan lain sebagai template untuk dicari.
Empat ribu perempuan yang menyimpan foto tangan itu di HP mereka. Empat ribu perempuan yang mungkin menjadikannya referensi. Mungkin membawanya ke kafe-kafe di Canggu atau Seminyak atau Yogyakarta atau Lombok, melihat gambar itu di kepala sambil senyum ke laki-laki asing yang duduk sendiri dengan buku tebal di tangan.
Foto tangan yang bahkan tidak memperlihatkan wajah siapapun.
Foto tangan yang ternyata bisa jadi milik siapapun.
Yang tinggal bukan amarah.
Amarah sudah pergi duluan. Yang tinggal justru lebih diam dari itu, penyesalan yang duduk di sudut kepala dan bertahan lama.
Marc perhatian. Waktu awal. Itu nyata.
Marc juga yang mengirim fotonya ke grup yang menaksir perempuan lokal berdasarkan harga. Itu juga nyata.
Dua hal itu berdiri di tempat yang sama, tidak saling mendorong, tidak saling membatalkan. Dan mungkin di situlah letak sulitnya, bukan di salah satunya, tapi di keduanya yang terus hidup berdampingan di dalam satu orang.
Dia sudah bercerita ke empat puluh ribu perempuan.
Sambil, tanpa dia sadari, menjadikan dirinya bukti dari sesuatu yang dia percaya: perempuan Indonesia lebih baik bersama bule. Karena bule itu provider sejati.
Template itu sudah berjalan jauh. Mungkin sudah membawa beberapa dari mereka ke tempat yang sekarang dia berdiri.
Bapaknya Neneng, tukang bangunan di Ciamis, pulang sore dengan semen di celah kuku. Seumur hidupnya tidak pernah bilang provider. Tidak tahu kata itu. Tapi setiap bulan dia serahkan yang dia punya ke ibunya untuk kehidupan mereka dan anak-anak juga sekolah, tanpa drama, tanpa teori.
Mas Bagus, kakak Sari, kerja dua shift setiap hari supaya adik-adiknya bisa sekolah. Mas Bagus juga tidak pernah keberatan menghidupi adik-adiknya sekolah agar punya kehidupan yang lebih baik kelak. Dan sari dua bulan lagi akan menjadi sarjana.
Marc orang Jerman.
Marc juga laki-laki yang bilang okay sambil memegang cangkir kopinya dengan tenang, ketika Neneng bilang dia hamil. Lalu pergi. Hilang.
Ras tidak ada hubungannya dengan mental provider.
Ini yang seharusnya dia sadari dari dulu. Ini yang seharusnya dia jelaskan, bukan dibalik-balik jadi konten, bukan dijadikan argumen untuk memenangkan sesuatu yang ternyata tidak ada yang menang di sana.
Mental provider tidak tumbuh dari tanah Eropa. Tidak diwariskan lewat gen atau paspor. Tidak datang bersama aksen dan kulit terang. Mas Bagus tidak perlu jadi orang asing dulu untuk memilih kerja dua shift demi adik-adiknya. Bapaknya juga tidak pernah belajar dari ras kulit putih untuk bertanggung jawab terhadap anak-anaknya sampai batas yang ia bisa.
Mereka hanya memilih. Dengan apa yang mereka punya. Di tempat mereka berdiri.
Yang ada hubungannya adalah sesuatu yang tidak terlihat di foto mana pun, tidak terbaca dari nominal transfer, tidak bisa ditebak dari warna paspor atau cara dia pesan kopi, yaitu dari sifat aslinya.
Yang tidak muncul di kencan pertama. Tidak di bulan pertama. Tidak sampai ada sesuatu yang sungguh-sungguh harus dia pilih dan di situlah baru kelihatan, dia pilih apa.
Marc memilih okay dan pergi.
Itu bukan soal dia orang Jerman. Itu soal dia, Marc, laki-laki itu, dengan pilihan yang dia buat di pagi itu sambil memegang cangkir kopinya.
Dan kesalahan terbesar bukan mencintai Marc. Kesalahan terbesar adalah menjadikan Marc sebagai bukti untuk sebuah teori yang sejak awal sudah retak di mana-mana.
Neneng buka profil Instagram-nya. Lihat empat puluh dua ribu followers. Lihat konten-konten yang sudah dia buat dengan seksama, dengan keyakinan, dengan rasa bahwa dia sedang membagikan sesuatu yang berharga.
Satu per satu, dia archive.
Dia tidak memilih untuk menghapusnya, karena dia tidak mau berpura-pura itu tidak pernah terjadi. Itu terjadi, dia yang bikin, itu pilihannya, dan dia harus duduk dengan kenyataan itu.
Tiga puluh enam konten masuk archive dalam sepuluh menit.
Lalu dia buka kolom bio-nya. “I asked for a good man, and the universe gave me a provider."
Hapus semua yang lama. Ketik yang baru, singkat:
Pelayan kafe. Sedang belajar banyak hal.
Simpan.
Selesai.


aakkk sukaaa🥹💛 ditunggu cerita-cerita selanjutnyaa kakk!! semangaatt🫶
suka bangetttt! ditunggu cerpen selanjutnya kakk🥰